Makna Lirik Lagu Indie Nadin Amizah

Berawal dari Atap (Bagian 7)


Nia merasa tertegun kala melihat sosok lelaki yang tiba-tiba jongkok di depannya. Nia merasa kenal betul akan siapa dia. Namun tak sempat berucap, tangan Nia langsung diseret menuju tengah taman.

“Eh tunggu!” teriak Nia sembari mengusap air matanya.

“Kenapa?”

“Aku ambil dulu duit-duitnya, mubadzir kalau ditinggal begitu aja.”

“Haddeh, ya sana. Cepat sana, aku tunggu di bangku itu ya!” ujar lelaki itu sambil mengacungkan jarinya ke arah bangku yang berada di tengah taman.

Nia berlari menuju tempat menangis semula. Namun apa kata, uang yang ia dapat dari ketidaksengajaannya sudah hilang tanpa sisa.

“Cring..”

Terdengar suara bunyi uang recehan jatuh. Dengan sigap Nia langsung memutar kepalanya ke arah bunyi yang didengar. Terlihat seorang bocah yang dengan susahnya membawa beberapa pecahan uang di genggaman kecilnya. Nia pun merasa iba.

“Kasihan anak itu, mungkin akan ku minta separonya saja.”

Ketika Nia hendak menghampiri bocah tersebut, tampak seorang lelaki berkostum preman berdiri tepat di hadapan sang bocah.

“Wah, lagi kaya lu tong? Stor semuanya sini! SETOR!” teriak preman itu.

Nia mengubah niatnya dari yang semula ingin meminta setengah menjadi ikhlas sepenuhnya. Ia takut jika terjadi apa-apa nantinya. Berputar badan, dan berlari menuju tengah taman.

“Hah.. hah..” engah Nia tak beraturan.

“Ngapain kamu ngos-ngosan gitu? Ketemu setan?!”

“Enggak, hah.. hah.. udah abaikan aja. Kenapa kamu ada di sini?” tanya Nia sambil dalam engahnya.

“Aku cuma lewat tadi, lah kenapa kamu bisa nangis sambil berpakaian lusuh gitu? Selain kuliah, kamu nyambi ngemis yah?” tanya lelaki itu.

“Fak! Kaga lah! Haha” bantah Nia. “Eh, ngomong-ngomong kamu kenapa belum pulang? Maafin aku ya Put, aku mengecewakanmu hari ini,” ucapnya yang langsung disusul dengan memeluk lelaki itu.

“Eh, bentar. Kamu pasti ngira aku Putra ya? Haha, masak kamu lupa sih ama tahi lalat ini?” sambil tunjuk di pipi kiri.

Nia memang merasakan hal yang berbeda, karena parfum yang dikenakan Putra tidak pernah sewangi ketiak. Nia pun mengingat lebih dalam akan siapa yang dipeluknya. Semakin dalam dan semakin dalam ia mengingat, akhirnya Nia menemukan tentang siapa sosok lelaki yang sedang dipeluknya.


“Eh, kamu... Petra?!!” dengan gegas Nia melepas pelukannya setelah sadar.

bersambung...
Previous
Next Post »
Terimakasih atas kunjungannya, Salam #SobatJoa!