Makna Lirik Lagu Indie Nadin Amizah

Berawal dari Atap (Bagian 4)


Nia tetap melanjutkan makan dengan mengabaikan ejekan Putri. Tanpa pikir panjang, semprotan kata-kata kotor keluar dari mulut Putri.

“Kotor lo!” teriak Putri sambil memegang kerah baju Nia.

“Eh kakak, gak boleh ngomong kotor ah. Dimarahin papah loh!” ujar Ati, salah satu anggota geng Putri yang juga adik kandungnya sendiri.

Selain berpenampilan feminim, putri memiliki paras yang bisa dikatakan tampan. Rambut pendeknya mampu menampankan wajahnya yang aslinya jelek. Ia memiliki tiga anak buah, yaitu Ati yang juga merupakan adik kandungnya, Dewik, dan Ika. Mereka berempat berasa seperti penguasa kampus. Keahlian berselfi mereka tak dapat dipungkiri, sabtu lalu saja mereka mampu memperoleh predikat selfi terbaik tingkat provinsi.

“Eh iya, makasih Ati, kamu memang adik terbaik yang pernah ku miliki,” ujar Putri sambil memeluk Ati dengan erat.

Sementara itu, Nia dengan cuek meninggalkan mereka. Tak ada satu pun yang menyadari kepergian Nia, kecuali penjaga kantin yang galak ini, Bu Yanti.

“Heh! Bayar cepet!!” teriak Bu Yanti sembari memisah pelukan Putri dan Ati.

“Eh, lho lho lho.. Beli aja kaga, eh.. langsung suruh bayar. Wat deh el?? Haha...” tawa Putri yanng juga diikuti ketiga anak buahnya.

Dalam tawa, Bu Yanti mask kedalam dapur. Tak lama kemudian dia menodongkan alat pemadam kebakaran dan mengarahkannya ke wajah Putri. Tiba-tiba tawa itu membisu dan dengan sendirinya keringat dingin keluar dari tubuh Putri.

“Dia bilang kamu sedang ualng tahun dan kamu mentraktirnya. Mau bayar apa mau semprot?” tanya halus bu Yanti.

“Eh, berapa yak buk?” ujar Putri sembari merogoh kantong celananya.

Dengki semakin mengisi hati Putri. Dia merasa bahwa harga dirinya terinjak-injak dikarenakan hal itu. Namun sebaliknya, Nia malah tak memikirkannya dan santai menghadapi semua masalah yang ada di depannya.

Terang berganti senja, senja berganti petang, dan petang berganti terang. Waktu bergulir begitu saja dengan mengabaikan setiap masalah dari penghuni bumi, padahal mereka selalu menghargainya. Nia terbangun dengan tarikan anggota badan ke mana-mana.

“Hoaammmmm...”

“Nia bangun, udah jam tujuh nih!” gugah ibunya dari depan pintu kamarnya.

“Iya bu, Nia udah bangun kok.”

Nia keluar kamar dengan mengalungkan handuk di lehernya. Namaun rencananya gagal ketika ibunya mencegatnya di depan pintu kamarnya.

“Nia, tadi ada yang titip surat pada ibu,” sambil menyodorkan surat yang terbuntel amplop merah.

“Surat? Dari siapa ya buk?” tanya Nia sembari menerima suratnya.

“Ya gak tau, setelah ngasih dianya langsung pergi kok, gak sopan. Tapi seragamnya seperti kamu, cewek, berambut sebahu, lurus, tapi keriting,” jelas ibunya sambil berjalan kearah dapur.

“Ha? Lurus tapi keriting? Mungkin si Pu...” gumamnya yang belum rampung.

Nia langsung membuka paksa amplop yang ada ditangannya. Apa kata, dugaannya benar.

bersambung...
Previous
Next Post »
Terimakasih atas kunjungannya, Salam #SobatJoa!