Makna Lirik Lagu Indie Nadin Amizah

Kasih Berkisah Kesah (Bagian 7)


<<sebelumnya di bagian 6...

Tia berjalan menuju depan gerbang depan sekolah dengan murung. Ia sendirian, tak ada yang terlambat selain dia di hari itu.

“Wah, ada petugas kebersihan tanpa tanda jasa nih. Haha.”

Seringkali beberapa orang lewat di belakangnya mengejeknya dengan lantang. Tia menyadari bahwa hidup ini adil, siapa yang memberi pasti akan mendapat.

“Apa yang pernah aku berikan ke Pak Slamet?! Cuma sebongkah parsel murahan dari ngemis di kelas! Fak! Fak! Faaaaakk!!!!” teriak suara batin Tia.

Pekerjaan office girlnya membuatnya tidak merasa capek saat mencabuti rumput depan sekolah. Tangannya dengan lihai mencabut satu demi satu rumput yang bergoyang di depannya. Keringan menerocos dari dahi, menjamping ke hidung, dan masuk ke dalam mulutnya. Rasa asin dari keringat dapat memompa semangatnya untuk sesegera mungkin menyelesaikan hukumannya.

Ia berjalan dengan mengayunkan tangan-tangan kotornya menuju kamar mandi. Sabun cair yang ada di atas bak ia crotkan ke tangannya dan mulai membuat gelembung-gelembung busa yang indah. Tampak tatapan kosong dari mata Tia karena masih kepikiran akan masalah tadi. Ia bilas gelembung-gelembung di tangannya dengan seciduk air.

“Byurr..” suara bilasan seciduk air.

“Fakk!!”

Akibat bengong yang berlangsung lama, kini tubuhnya basah kuyup. Ia beranggapan bahwa ia sedang bersampo di rambutnya. Akibat kecerobohannya itu ia berlari keluar kamar mandi untuk pulang.

“Eiiiittt.. mau kemana mbak cantik?? Malah basah-basahan gini.. hayoo...” Kamal menggoda dengan memegarkan tangannya.

“Minggirr!!!” teriak Tia sembari melompat tinggi.

Gara-gara Kamal bersihteguh menghambat kepulangan Tia, ia mendapatlan mata panda akibat mendaratnya dengkul Tia yang melompat ke arahnya. Sebelumnya, Tia pernah mendapat juara satu lomba loncat tinggi, menjadi hal yang lumrah jika ia bisa melompat setinggi kepala Kamal.

Darah mengucur deras dari hidung Kamal, ia langsung menutupnya dengan tangan kirinya.

“Stop!! Setoopp mbak!” teriak Kamal dengan merenggangkan tangan kanannya kearah Tia.

Mendengar teriakan Kamal, Tia sejenak berhenti. Menengok ke belakang, dilihatnya tetesan demi tetesan mengucur dari sela-sela jari kirinya Kamal. Beberapa detik kemudian ia muntah, ia jijik melihat darah. Kemudian ia kembali lari meninggalkan sekolah.

Langkah demi langkah membawanya menuju suatu tempat yang biasanya dapat menenangkan hati Tia ketika merasa resah.

“Kenapa semua ini bisa terjadi! Kenapa semua hal sial menimpa hidupku! Apakah salah seorang hina sepertiku ini merasakan bahagia?! Kenapa!! Tolong jawab!!!” teriak Tia di taman kota.

“Kamu kurang menikmati hidup,” sahut seorang cowok dari belakangnya.

Previous
Next Post »
Terimakasih atas kunjungannya, Salam #SobatJoa!