Makna Lirik Lagu Indie Nadin Amizah

Kisah Cinta Joa (Bagian 10)


Gue penasaran dengan cewek yang senyam-senyum kepada gue. Wajar dong, cowok rumahan kek gue gini kan minim banget buat pengalaman masalah hati. Mendekati cewek pun terasa berat bagi gue karena emang gak pernah latihan dari kecil buat terbiasa menakhlukkan cewek.

“Dasar, Dia tuh penjaga warnet!! Wajar dong kalau dia senyum-senyum ama pelanggannya!” teriak Anggar di depan wajah gue.

Setelah puas meneriakiku, Anggar pun memulai langkah pertama dengan menekan tombol merah yang berada dikotakan hitam, bisa juga disebut menghidupkan cpu. Setelah itu tombol power monitor. Gue hanya terpana melihat layar yang bisa bersinar ada gambar lumba-lumbanya.

“Nggar, lumba-lumbanya keren. Tapi dia kok gak bergerak ? Apakah dia wafat ya Nggar ? Padahal dia sangat hebat kemarin, gue menontonnya di sirkus.” gue nangis karena berduka.

“Dasar! Ini cuma gambar Jo! Kalau bisa bergerak gue malah lari ketakutan!!!!” gue pun hanya diam dan kembali menyadari. Ternyata gue bukan lugu tapi bodoh.

Setelah itu Anggar memencet kolom personal dan mulai berselancar di internet. Gue hanya bisa diam dan menatapnya, yang sedang memencet benda hitam yang ada banyak huruf tapi diacak-acak abjadnya (itu keyboard Jo!) (kan waktu itu gue kaga mudeng :p). Anggar masuk ke suatu situs web yang berwarna biru berlambangkan “F”.

“Jo, ini namanya fesbuk. Lo punya gak ?” dia mengejekku. Dia kira gue gak punya, gue jawab dengan lantang aja.

“Apa sih itu Nggar ? Bisa dimakan ?” Anggar hanya diam dan berpaling dari menatapku menjadi menatap layar monitor kembali seperti tadi. Tak lama kemudian, Anggar senyum-senyum sendiri. Gue lihat dia sedang tertawa membaca tulisan dari seorang cewek yang sedang dia ajak chatting.

“Jo ? Gue punya pacar!” dia peluk gue, dan gue hanya bisa menutup hidung karena bau badannya. Dia belum mandi selama dua hari. Bayangin aja, bagaimana baunya. Serasa meminum jus stobery yang dibalut kaos kaki.

Gue pulang melewati kuburan bersama Anggar, karena hanyalah jalan itu yang mampu cepat untuk bawa gue pulang. Dia menceritakan siapa dia, dimana dia tinggal, kapan dia kenalan, bagaimana keadaannya, intinya lengkap deh faktor 5W+1H. Dan saat itu dia menanyakan kapan gue punya pacar. Belum terfikirkan untuk gue bagaimana rasanya punya pacar, apakah itu indah ? bahagia ? ataupun luka ? Tapi sudah deh, waktu itu gue masih kelas satu SMP. Belum terfikirkan ataupun cukup umur untuk pacaran.

Tetapi hari berikutnya, gue mendatangi rumahnya dan mengajaknya untuk kembali bermain di warnet. Gue minta diajari fesbukan, dan ingin merasakan apa itu arti pacaran. Maklum, anak umur segitu kan masih labil. Sebentar berfikir ini, sebentar berfikir itu. Ngertiin dong, maklumin dong, itu kan baru anak-anak #yang lumayan gedhe.

Ketika sampai di depan warnet, gue sudah gak mengagumi pintu yang bisa bergeser kanan dan kiri. Gue kan gak kampungan. Gue masuk dengan gagah berani. Melihat penjaga warnet yang cantik itu kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya seperti kemarin. Tapi gue gak balas senyumnya, dan berpaling muka padanya. Emang dia kira gue bisa tertipu lagi apa ?! Gue gak mau diPHPin penjaga warnet yang cantik lagi!, itu prinsipku dihari itu.

“Bagaimana Jo ? Apakah lo udah siap ?” tanya Anggar pada gue. Iya gue, yang kata ibu gue kalau gue ini ganteng.

“Udah dong, gue udah berdoa dari rumah dan minta restu orang tua. Mari kita mulai semua ini dengan berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Berdoa mulai dan selesai. Ayo Nggar,” Anggar menatap gue sambil membuka mulutnya. Gue gak tau apakah maksudnya diwaktu itu, atau jangan-jangan dia kesurupan ? Entah lah, yang penting gue bisa fesbukan! Yee...

bersambung...

Kisah Cinta Joa (Bagian 10) End. Ingin tau apakah Joa bener-bener punya Facebook atau gak jadi punya karena ada masalah dadakan yang harus mengharuskannya cepat-cepat pulang ? ikuti terus di bagian selanjutnya ya kawan!
Previous
Next Post »
Terimakasih atas kunjungannya, Salam #SobatJoa!