Makna Lirik Lagu Indie Nadin Amizah

Kasih Berkisah Kesah (Bagian 1)


Berangkat dari rumah menuju sekolah, Kiki berjalan melewati bahu jalan yang tak disandari oleh siapapun. Beberapa kerikil terinjak oleh sepatunya yang sudah usang karena tak mampu membeli yang baru. Jumpa dengan agkot yang melaju beberapa kali di samping kanannya tak membuat dirinya ingin menaikinya, karena ia tau uang jajannya tak cukup jika dipergunakan untuk menaikinya.

Namun, ada saja orang baik yang membarenginya. Seperti di pagi itu.

“Ki! Ayo bareng?!” ajak Dewi.

Dewi adalah teman baiknya sejak SD, walau ia tak pernah satu kelas. Namun kedekatannya tak bisa dipungkiri lagi, karena Dewi adalah kakak kandungnya yang tidak naik kelas sewaktu TK kecil.

“Ayo Kak!”

Akhirnya Kiki berangkat sekolah bareng Dewi, mereka berjalan bersama-sama dengan ceria. Namun keceriaan itu pudar seketika, ketika seorang preman SMP mencegatnya dari belakang.

“Hoey! Berhenti kau!” teriak preman itu dari belakang.

Dewi menengok ke arah belakang dengan perlahan yang diikuti dengan deg-degan.

“Siapa dia, Ki?” tanya Dewi dengan gemetar di bibir.

Kiki membalikkan badannya dengan cepat.

“Ngapain kamu Cung, aku udah apal suaramu!” ujar Kiki.

“Lah, Mbak Kiki ngapain lewat sini?!” tanya Cunghai, sang preman SMP.

“Kamu yang ngapain neriakin kami seperti itu!”

Cunghai adalah adik Kiki dari bapak tirinya yang kesembilan. Ibunya Kiki merupakan seorang wanita poliandri yang gemar mengoleksi suami dari beberapa negara. Salah satunya adalah Ciung Fai, ayah dari Cunghai yang berasal dari China. Anak yang berasal dari suami berbeda-bedanya berada di salah satu kota yang ada di Indonesia, namun tersebar hingga satu sama lain terkadang saling tak mengenal.

“Kau mau malak kami Cung?!” tanya Kiki dengan tatapan tajam.

“Siapa sih dia Ki, Kamu kok kenal ama preman berseragam SMP itu?!” tanya Dewi dengan penuh penasaran.

“Dia anak dari papah Ciung kak, masak kakak lupa sih? Minggu kemarin kan kakak habis nginep di rumahnya. Haddeh...” ucap Kiki sambil memukul jidatnya.

“Oh iya, hehe,” nyengir Dewi. “Tapi kan waktu itu dia pake sragam pramuka, wajar dong kalau aku lupa?!”

Cunghai dan Kiki menatap Dewi dengan penuh kebingungan. Terlihat seorang wanita berseragam SMA melintas di depan kebingungan mereka dengan santai dan bersiul. Wanita itu terus dan terus berjalan hingga sampai di depan pintu gerbang sekolahnya.

“Pak satpam...” ucapnya dengan nada lirih. “Pak satpam.... Pak.... Pak satpam...” lanjutnya, namun pak satpam hanya meresponnya dengan suara ngorok. “TOPIK!! BANGUUNN COYY!!! NIAT KERJA KAGA SIHH??!!!” teriaknya dengan lantang.

“Berisik! Kamu ngapain telat lagi?! Dasar cewek brandal!”

“Aku cewek alim woey!! Brandal matamu!”

“Mulutmu gak sopan sama sekali!! Kamu gak di sekolahin yo?!!”

“Gak disekolahin jidatmu, masak gak liat aku pake seragam. Artinya aku di sekolahin!”

Tiga detik kemudian mereka berantem, si wanita ini memiliki jiwa seperti lelaki tangguh. Hantam pukul tak terbendung lagi. Darah mengalir deras, dari leher ayam jago yang sedang di sembelih di samping pos satpam. Guru yang sedang ingin melakukan praktek biologi memisah perkelahian antar satpam dan siswi dengan pisau berdarah ayam.

“Ada yang mau di sembelih lagi?”

Wanita yang berjiwa lelaki itu langsung terbirit-birit masuk ke sekolah karena ketakutan, sedangkan si satpam mengajukan cuti satu bulan karena dipenjara akibat dituduh atas penyiksaan wanita. Wanita yang berlari tadi langsung masuk kelas dengan gegas. Ia duduk di bangku belakang sendiri, tepatnya di samping Tia.

Tia adalah ketua preman sekolah yang menjabat menjadi office girl di sekolahnya seusai sekolah. Ia harus menambah penghasilan keluarga karena ayahnya sudah tak mampu bekerja lagi. Ayahnya merupakan istri pertama dari Nyonya Rini, yang juga merupakan ibu dari Kiki, Dewi, dan Cunghai.

“Eh, Yak! Tadi aku mau di sembelih ama Pak Deni, guru biologi yang seperti psikopat itu!! Iyuh banget deh!” curhat wanita itu dengan napas terengah-engah.

Tia sering dipanggil Tiyak oleh teman-temannya, salah satunya adalah Amel, seorang wanita berjiwa lelaki yang membuat satpam sekolah mengambil cuti satu bulan.

“Apa Mel?! Wat de fak bener tuh guru, ntar aku bakar tuh kuburan neneknya yang ada di belakang sekolah!” tegas Tia dengan hentakan tangan di meja.

“Sialan, kamu ngomong apa tadi?! Jangan Yak! Plis, jangan sendirian, ajak aku!”

Mereka berdua diam dengan tatapan tajam.

“Hahaha, gak mungkin kan kita lakuin kegiatan itu? Haha.. Otak kamu memang agak stres Yak!”

Mereka berdua tertawa lepas, sampai-sampai behel di gigi Amel merenggang.

Hari berikutnya Pak Deni mengundurkan diri dari profesi gurunya dan pindah rumah ke luar negri. Ia takut terkena azab, seperti yang terjadi pada kuburan neneknya.

Walaupun seorang preman di sekolahnya, Tia tidak pernah lupa untuk beramal. Ia selalu membeli makanan dan di berikannya kepada gelandangan-gelandangan di sepanjang jalan pulang dan meminta uang dua kali lipat dari harga beli makanannya. Alasannya adalah untuk mengingatkan agar gelandangan pun juga harus beramal.

Di sekolahnya, Tia memiliki seorang guru yang sangat gagah dan tampan. Guru itu selalu fitnnes setiap malam tanpa henti, akibatnya adalah memiliki tubuh idaman yang diinginkan setiap pria. Guru itu bernama Pak Slamet. Tia sangat mengidolakan guru itu, sampai-sampai ia memasang foto Pak Slamet di setiap sudut kamar tidurnya. Setiap pagi ia selalu menciumi foto tersebut tanpa henti, karena Pak Slamet merupakan semangat hidupnya.

Previous
Next Post »
Terimakasih atas kunjungannya, Salam #SobatJoa!