Makna Lirik Lagu Indie Nadin Amizah

Berawal dari Atap (Bagian 14)


“Saya pulang dulu ya? Saya mau pulang,” ucap Pak Huda sembari berjalan pelan menuju pintu.

Nia merasa begitu mual dan ingin muntah. Sedangkan Diki, malah tersenyum-senyum sambil memejamkan matanya.

“Berarti secara tidak langsung, dulu waktu bayi aku pernah gigit-gigitan ama Nia. Hihi..” girang Diki dalam batin.

Mulut Nia tertutup oleh tangan kanannya, oleh karena itu bola kenangannya malah menyentuh bibirnya dan hampir masuk ke mulutnya. Kemualan Nia semakin tak tertahankan, langsung ia lempar bola itu ke arah belakang tanpa arah. Bola itu memantul dengan bebas tak terkendalikan.

“Grr... SAYA PULAAA..” ucap Pak Huda belum rampung. “AAAPppp..” ada ssuatu benda yang menyumpal mulutnya ketika geram karna pamitnya tak dianggap siapapun.

Nia langsung berlari menuju kamar mandi dengan gegas. Pejaman mata Diki masih terjadi dengan senyuman bahagia di wajahnya.

“Howeeeeeekkkkkkk... howeeekkkkkk... howeeekkkkk...”

Teriakan Nia dari kamar mandi terdengar hingga ruang makan, bahkan sampai ruang makan tetangga. Bu Iyem langsung berlari menuju kamar mandi untuk melihat kondisi Nia yang semakin keras suara muntahannya, sedangkan Diki berjalan pelan menuju kamarnya dengan senyum-senyum manja sembari mengelus bibirnya.

“Howekk! Juh! Juuh! Juuuhh!!! Saya mau pulang pokoknya!” teriak Pak Huda dengan lantang sambil memuntahkan bola dari mulutnya.

Perlahan kepalanya enengok ke belakang. Tak ada satu orang pun yang terlihat. Air mata Pak Huda langsung menetes seketika.

“Apa artinya aku di sini, gak ada yang menghargaiku. Higs.. Ucap makasih pun tak ada, apalagi bayaran. Higs.. sepertinya aku memang harus pensiun dari profesi ini. Ampuni saya Tuhan..”

Tertatih pelan Pak Huda berjalan menuju pintu. Air matanya pun masih mengalir melewati pipi-pipi keriputnya, walau sesekali alirannya berbelok karena menabrak tahi lalat di pipi kirinya. Namun Pak Huda serentak menghentikan tatih langkah dan mengusap air matanya ketika mendengar panggilan namanya dari belakang.

“Pak Huda!” teriak Bu Iyem sambil lari dari kamar mandi.

Hati Pak Huda serasa berhenti berdetak, ia sangat gembira karena ternyata masih ada yang menganggapnya ada.

“Syukur dah, mungkin aku tidak akan meninggalkan profesi ini selamanya. Masih banyak orang yang membutuhkanku di dunia ini. Mugkin ini jalanmu untukku, Tuhan..” ujar Pak Huda dari hati kecilnya.

“Awas pak!” teriak Bu Iyem sambil mendorong Pak Huda hingga terjatuh di lantai. “Lelet banget jalannya, cowok macam apa kau ini!” lanjut Bu Iyem sambil lari menuju luar rumah.

Dengan tatapan kosong, Pak Huda langsung mengambil semartpon di saku kanan celananya. Tangannya sudah mahir menjalankan aplikasi gugel tanpa harus melihat layar. Ia langsung browsing dengan menuliskan keyword yang terlintas di benaknya. “Tempat bunuh diri terindah di Indonesia”.

bersambung...
Previous
Next Post »
Terimakasih atas kunjungannya, Salam #SobatJoa!